Pandaan, 18/11/2024 – Mahasiswa Pariwisata UPN “Veteran” Jawa Timur angkatan 23, kelompok 8 Antropologi Pariwisata, sedang melakukan kunjungan observasi di Taman Candra Wilwatikta. Kunjungan ini bertujuan untuk mengetahui siapa saja pemangku kepentingan dan bagaimana perannya dalam pengembangan tempat wisata ini.
Taman Candra Wilwatikta adalah sebuah taman budaya yang terletak di Pandaan, Pasuruan, Jawa Timur. Tempat ini menawarkan agenda seni tradisional dan modern yang berbalut keindahan alam Gunung Penanggungan. Berdiri sejak 1963 dan diresmikan oleh Presiden Soeharto pada 1971, taman budaya ini menjadi saksi tempat parkir kuda di zaman Hayam Wuruk, tempat pelatihan prajurit Majapahit sebelum dimiliki yayasan dan pertunjukan seni Ramayana pertama kali.
Amphitheater setelah event Rock Legend (Sumber: Dokumentasi Pribadi)
Taman Candra Wilwatikta memiliki amphitheater terbesar di Indonesia yang mampu menampung hingga 15 ribu penonton dengan latar Gunung Penanggungan. Panggung ini menjadi lokasi berbagai acara, seperti Wilwatikta Creative Festival (14 September 2024), Rock Legend (16–17 November 2024), serta sendratari kolosal, termasuk kolaborasi Sanggar Tari Putri Terong dan Sanggar Banyuwangi (23 November 2024). Selain itu, taman ini menawarkan wisata edukasi membatik yang dikelola oleh Ibu Rara, dilakukan melalui reservasi dan sering diadakan di sekolah-sekolah.
Terdapat kritik yang datang dari beberapa pengunjung, salah satu contohnya adalah penebangan pohon yang mengurangi kenyamanan area sekitar dan kurangnya informasi digital. Meski demikian, fasilitas seperti penginapan, cafe, dan agenda acara tetap menjadi daya tarik utama. “Wisatawan sering memuji amphitheater dan pemandangan gunung di belakangnya sebagai keunikan yang sulit ditemukan di tempat lain,” tambah Ibu Rara.
Dibalik daya tariknya, keberlanjutan taman ini tidak lepas dari peran berbagai pemangku kepentingan (stakeholder) yang terlibat dalam pengelolaannya. Taman ini dikelola oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Jawa Timur melalui UPT Pemberdayaan Lembaga Seni dan Ekonomi Kreatif Wilwatikta, dengan dukungan beberapa mitra swasta. Berikut ini hasil dari wawancara kami dengan pengelola, wisatawan, dan masyarakat setempat:
Peran Pemerintah dalam Mengelola dan Tantangannya
Sebagai pihak utama yang mengelola taman, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata berperan dalam merawat fasilitas dan mengatur operasional taman. Meski demikian, beberapa tantangan masih dihadapi. Misalnya, dana dan kerjasama, serta aturan perizinan yang ketat untuk mengembangkan Taman Candra Wilwatikta. “Sebagai teater terbuka terbesar di Indonesia, taman ini seharusnya memiliki potensi yang sama besar dengan Candi Prambanan dalam menggelar acara rutin. Pengelolaan seharusnya tidak hanya bergantung pada pemerintah, perlu ada kerjasama yang lebih luas,” kata Bapak Antok Agusta, Pamong Budaya yang telah 10 tahun bertugas di Taman Candra Wilwatikta.
Peran Sektor Swasta Pebisnis terhadap Pengembangan Wisata
Taman Candra Wilwatikta sendiri memiliki kerja sama dengan pihak luar seperti pihak swasta maupun pebisnis. Ternyata, taman budaya ini hampir dibeli oleh Ciputra namun transaksi jual beli tersebut tampaknya tidak berhasil sehingga diserahkan pada Dinas Pariwisata Provinsi. Disamping itu masih terdapat pebisnis yang secara personal menyewa beberapa tempat untuk dijadikan sebagai tempat berjualan dan lain sebagainya. Seperti Depot Pararaton yang berkolaborasi dengan pihak swasta untuk memenuhi kebutuhan pengunjung, terutama saat ada event tertentu. Narasumber juga menyebutkan kolam renang yang rencananya akan dibangun untuk penambahan atraksi wisata merupakan kerja sama dengan pihak luar yang menyewa lahan di Taman Candra Wilwatikta. Rencana tersebut diharapkan menguntungkan kedua belah pihak dari pihak swasta maupun pihak pemerintah.
Kontribusi Masyarakat Lokal di Tempat Wisata
Meskipun keterlibatan masyarakat lokal dalam pengelolaan tidak ada, masih terdapat dampak kecil yang dirasakan ekonomi sekitar. Usaha F&B, seperti rumah makan dan toko kelontong mendapat pendapatan tambahan selama ada agenda acara diadakan di Taman Candra Wilwatikta. Namun, alangkah baiknya jika masyarakat diberikan ruang untuk berpartisipasi, seperti kerjasama dengan usaha resto untuk promosi atau keterlibatan pengembangan atraksi baru. “Kalau warga boleh ikut, taman ini bisa lebih ramai dan lebih besar,” ujar Ibu Evin, masyarakat setempat.
Peran Akademisi
Dalam wawancara yang dilakukan oleh penulis, mahasiswa Universitas Pembangunan Nasional Jawa Timur, ditemukan bahwa meskipun taman ini sering menjadi objek penelitian. Hingga saat ini, belum ada hasil penelitian atau laporan yang diterima oleh Taman Candra Wilwatikta karena pihaknya sendiri tidak meminta laporan tersebut dari para peneliti atau pengamat. “Kami sangat berharap ada lebih banyak kritik membangun dan laporan penelitian dari akademisi yang dapat langsung disampaikan ke dinas terkait,” ungkap Bapak Antok.
Peran Media untuk Pengembangan Wisata
Media seperti TVRI, memegang peranan juga dalam mempromosikan Taman Candra Wilwatikta kepada khalayak luas. Sebagai mitra, TVRI pernah meliput acara-acara besar yang digelar di amphitheater. Selain melalui TVRI, taman ini juga memanfaatkan media sosial, seperti Instagram (@tamancandrawilwatikta), Facebook (Taman Candra Wilwatikta ), dan YouTube (Candrawilwatikta Official). Akun resmi tersebut sering digunakan untuk mempublikasikan informasi suatu event dan pemberitahuan, serta mempromosikan fasilitasnya meskipun aktivitas utama lebih difokuskan pada Instagram. Hingga saat ini, Taman Candra Wilwatikta belum memiliki situs web resmi yang dikelola secara mandiri, melainkan masih tergabung dalam situs resmi milik Pemerintah Kabupaten Pasuruan.
Kontribusi Wisatawan
Kehadiran wisatawan dalam acara pribadi atau seni seperti sendratari kolosal dan festival budaya tidak hanya meningkatkan pemasukan Taman Candra Wilwatikta, tetapi juga menjadi wujud apresiasi terhadap seni lokal. Penggunaan fasilitas, seperti penginapan di Hayam Wuruk Inn, turut mendukung pertumbuhan ekonomi kreatif di sekitar taman. Selain itu, wisatawan berperan sebagai agen promosi dengan membagikan pengalaman mereka melalui media sosial dan rekomendasi dari mulut ke mulut membantu memperkenalkan taman budaya ini lebih luas.
Dokumentasi Wawancara Bersama Pamong Budaya Wilwatikta (Sumber: Dokumentasi Pribadi)
Taman Candra Wilwatikta, yang berarti "Cahaya Majapahit," diharapkan terus berkembang sebagai pusat seni dan budaya. Melalui pengelolaan yang optimal dan dukungan berbagai pihak, taman ini berpotensi menjadi ikon wisata budaya internasional. Disimpulkan bahwa Taman Candra Wilwatikta adalah taman budaya yang memadukan seni, ekonomi kreatif, dan keindahan alam dengan peran aktif berbagai pihak. Dukungan berbagai pihak juga mempengaruhi pengembangan tempat ini agar dapat menjadikannya ikon wisata budaya yang melestarikan warisan seni.
Penulis: Eri, Miftah, Bella, Laras, Garsione
Mahasiswa Pariwisata UPN “Veteran” Jawa Timur.
Copyright © onPres. All Rights Reserved