Jakarta – ASEAN Blue Innovation Expo and Business Matching dibuka hari ini di Jakarta, diresmikan oleh Wakil Sekretaris Jenderal ASEAN, Duta Besar Jepang untuk ASEAN, dan Kepala Perwakilan UNDP Indonesia. Dihadiri oleh lebih dari 600 peserta, termasuk inovator dari kawasan tersebut, investor, pemimpin industri, dan pembuat kebijakan dari ASEAN dan Timor-Leste, acara penting ini menggarisbawahi komitmen bersama ASEAN, Jepang, dan UNDP untuk mendorong ekonomi biru yang berkelanjutan, tangguh, dan inklusif.
Sebagai bagian dari
proyek ASEAN Blue Economy Innovation, yang didanai oleh Pemerintah Jepang dan
dilaksanakan oleh UNDP di kantornya di Jakarta, dan dilaksanakan di bawah
Komite Koordinasi ASEAN untuk Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah, acara Expo and
Business Matching tersebut menyediakan platform strategis untuk
investasi di sektor ekonomi biru yang tengah berkembang pesat di kawasan ini.
Acara ini menampilkan
60 pemenang ASEAN Blue Innovation Challenge (ABIC), sebuah kompetisi yang
diselenggarakan di bawah proyek ASEAN Blue Economy
Innovation.
Para pemenang mewakili sepuluh negara ASEAN dan Timor-Leste, dan dipilih dari
lebih dari 1.300 peserta yang mengusulkan solusi inovatif untuk memajukan
ekonomi biru. Solusi tersebut antara lain teknologi AI yang mendeteksi penyakit
mematikan pada ikan, menyelamatkan petambak ikan dari kerugian yang signifikan;
budidaya rumput laut untuk meningkatkan ketahanan pangan, pendapatan, dan
penyerapan karbon; serta teknologi yang mengubah sampah plastik dari laut dan
sungai menjadi bahan bakar.
"Menurut World
Economic Forum, pengembangan ekonomi biru yang berkelanjutan di lautan dapat
menghasilkan keuntungan ekonomi yang melebihi 15 triliun Dolar AS, yang
mencakup sekitar 15% dari Produk Domestik Bruto (PDB) global. Ekonomi biru
memegang peranan penting bagi ASEAN, mengingat lebih dari 66% dari total
wilayah kawasan ini ditutupi oleh lautan dan samudra. Hal ini menggarisbawahi pentingnya
ASEAN untuk memanfaatkan potensi ekonomi biru secara bertanggung jawab,
memastikan manfaat ekonomi diimbangi dengan pengelolaan lingkungan dan keadilan
sosial," kata Satvinder Singh, Wakil Sekretaris Jenderal untuk Masyarakat
Ekonomi ASEAN. "Menyadari potensi ekonomi biru dan pengaruhnya terhadap
lanskap ekonomi ASEAN, inisiatif ASEAN Blue Economy Innovation dilaksanakan di
waktu yang tepat, memungkinkan kita untuk menemukan banyaknya bakat di ASEAN
yang akan berkontribusi pada konservasi dan kemajuan ekonomi biru di kawasan
ini," tambahnya.
Ekonomi biru
merupakan prioritas strategis bagi ASEAN, yang memainkan peran penting dalam
memajukan ketahanan pangan, ketahanan ekonomi, dan keberlanjutan lingkungan di
kawasan ini. Sejalan dengan ASEAN Blue Economy Framework yang
diadopsi pada tahun 2023, proyek ASEAN Blue Economy Innovation menekankan
penggunaan sumber daya laut dan air tawar yang berkelanjutan untuk mendorong
pertumbuhan ekonomi sekaligus menjaga ekosistem. Acara Expo and Business Matching bertujuan untuk lebih
meningkatkan dan mendorong inovasi guna mencapai
tujuan tersebut.
Dengan berfokus pada investasi berkelanjutan, expo ini telah menarik
minat investor, termasuk dari Jepang, yang mencari high-impact ventures yang
sejalan dengan keberlanjutan lingkungan dan pertumbuhan ekonomi. Dengan
menghubungkan wirausahawan dengan investor, mitra bisnis, dan pembuat
kebijakan, acara ini menciptakan peluang pembiayaan dan kolaborasi strategis
untuk meningkatkan solusi inovatif yang mendukung pembangunan berkelanjutan di
ASEAN.
“Tahun 2023 menandai
50 tahun persahabatan dan kerja sama ASEAN-Jepang, dan kami telah merumuskan ASEAN-Japan Economic Co-creation Vision. Salah satu dari
empat pilarnya adalah ‘Promoting Open
Innovation beyond Borders'. Tahun ini, Jepang akan terus memberikan
dukungan dalam mengatasi tantangan penting di bidang ekonomi dan keuangan biru
di negara-negara ASEAN dan Timor Leste,” kata Kiya Masahiko, Duta Besar Jepang
untuk ASEAN, yang menggarisbawahi dedikasi Jepang untuk membina inovasi yang
dipimpin ASEAN. “Acara ini bukan hanya platform untuk memamerkan solusi inovatif
tetapi juga kesempatan untuk menjalin kemitraan baru dan mendorong dampak inovasi
bersama. Kami harap upaya ini akan ditingkatkan melalui kerja sama dengan
sektor swasta Jepang,” tambahnya.
Sesi utama acara tersebut adalah pitch-fest, di mana 60 inovator mempresentasikan solusi inovatif mereka dalam tiga bidang penting: perikanan berkelanjutan, pariwisata biru, polusi plastik, dan isu iklim. Acara tersebut juga menampilkan sesi Business Matching and Networking, yaitu platform yang menghubungkan para inovator dengan calon investor, pemimpin industri, dan pembuat kebijakan untuk menjajaki peluang pendanaan, perluasan pasar, dan dukungan regulasi. Selain itu, pameran ABIC Winners' Innovation Showcases menampilkan teknologi, produk, dan prototipe inovatif yang ditujukan untuk mengatasi tantangan keberlanjutan di sektor kelautan dan pesisir.
"Hari ini, kita berkumpul dengan para inovator terbaik – 60 pemenang, 27 di antaranya dipimpin oleh perempuan, yang menerima dukungan finansial dan teknis dari UNDP selama enam bulan terakhir. Saya ingin menyampaikan rasa terima kasih saya yang sebesar-besarnya sekali lagi kepada ASEAN dan Sekretariatnya serta Pemerintah Jepang atas dukungan dan kepemimpinan mereka. Saat kita menghadapi tantangan dan menjajaki peluang, marilah kita tetap berkomitmen untuk masa depan yang berkelanjutan, inklusif, dan sejahtera – di mana semua orang di ASEAN dan sekitarnya dapat mewujudkan masa depan yang mereka inginkan," kata Norimasa Shimomura, Kepala Perwakilan UNDP Indonesia.
Diluncurkan pada bulan Mei 2024 di Sekretariat ASEAN, proyek ASEAN Blue Economy Innovation dirancang untuk mendorong transformasi ekonomi berkelanjutan di ASEAN dan Timor-Leste. Inisiatif ini diharapkan dapat memberi manfaat bagi ribuan masyarakat di kawasan ini dengan menciptakan peluang baru bagi ekonomi lokal, meningkatkan ketahanan terhadap tantangan lingkungan, dan meningkatkan kesejahteraan, khususnya bagi mereka yang tergantung pada ekosistem laut dan pesisir. Untuk informasi lebih lanjut tentang ASEAN Blue Innovation Challenge dan peluang investasi, kunjungi: https://www.undp.org/indonesia/asean-blue-innovation-challenge.
Tentang ASEAN
Perhimpunan
Bangsa-Bangsa Asia Tenggara, atau ASEAN, didirikan pada tanggal 8 Agustus 1967
di Bangkok, Thailand, dengan penandatanganan Deklarasi ASEAN (Deklarasi
Bangkok) oleh para Pendiri ASEAN: Indonesia, Malaysia, Filipina, Singapura, dan
Thailand. Brunei Darussalam bergabung dengan ASEAN pada tanggal 7 Januari 1984,
diikuti oleh Vietnam pada tanggal 28 Juli 1995, Republik Demokratik Rakyat Laos
dan Myanmar pada tanggal 23 Juli 1997, dan Kamboja pada tanggal 30 April 1999. Saat
ini ASEAN terdiri dari sepuluh negara anggota.
Tentang UNDP
UNDP adalah
organisasi Perserikatan Bangsa-Bangsa yang terdepan dalam upaya mengakhiri
ketidakadilan akibat kemiskinan, ketimpangan, dan perubahan iklim. Bekerja sama
dengan jaringan pakar dan mitra kami yang luas di 170 negara, kami membantu
negara-negara membangun solusi terintegrasi dan berkelanjutan bagi masyarakat
dan planet ini. Pelajari lebih lanjut di undp.org/Indonesia atau ikuti di
@undpindonesia.
Copyright © onPres. All Rights Reserved